Breaking News

Lembah Harau: Dasar Lautan Purba yang Kini Menjadi Daratan Eksotis


Tabloidbijak.co - Menyingkap misteri Lembah Harau, sebuah ngarai yang terletak dekat Kota Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota, bukan sekadar pemandangan alam biasa. Di balik kemegahan tebing cadasnya yang berwarna-warni dengan ketinggian mencapai 150 hingga 500 meter, tersimpan rahasia geologi yang sangat tua dan menakjubkan.

Jejak Dasar Laut di Dataran Tinggi

Salah satu fakta paling menarik mengenai Lembah Harau adalah asal-usul pembentukannya. Menurut penelitian para ahli geologi, kawasan yang kini berada pada ketinggian 500 hingga 850 meter di atas permukaan laut ini diyakini dulunya merupakan sebuah lautan.

Kesimpulan ini didukung oleh temuan survei tim geologi Jerman Barat pada tahun 1980. Mereka menemukan bahwa jenis bebatuan yang membentuk perbukitan di Lembah Harau adalah batuan Breksi dan Konglomerat. Secara teoretis, kedua jenis batuan tersebut merupakan batuan yang umumnya hanya ditemukan di dasar laut. Selain itu, ditemukannya berbagai endapan yang belum terganggu di daratan memperkuat bukti bahwa wilayah ini dulunya adalah perairan dalam.

Proses Terbentuknya Lembah dan Air Terjun

Secara geologi, batuan di Lembah Harau diperkirakan berumur antara 30 hingga 40 juta tahun. Batuan ini terdiri dari serpih yang sangat halus dan mengandung banyak organic carbon dari sisa-sisa organisme masa lalu.

Bentang alam Lembah Harau yang datar dan luas saat ini terbentuk akibat adanya fenomena patahan turun (block yang turun). Keberadaan tujuh air terjun di sepanjang tebing, seperti Sarasah Bunta dan Aka Barayun, merupakan tanda lokasi patahan tersebut. Air terjun ini terbentuk karena dahulu terdapat aliran sungai yang kemudian "terpotong" akibat patahan turun, sehingga mengalir jatuh dari jurang dengan ketinggian antara 50 hingga 90 meter.

Cagar Alam yang Bersejarah

Keunikan geologi ini menjadikan Lembah Harau wilayah yang penting secara ekologis dan sejarah. Kawasan seluas 270,5 hektare ini telah dikunjungi secara resmi setidaknya sejak tahun 1926, terbukti dengan adanya monumen peninggalan Belanda di kaki air terjun Sarasah Bunta. Pada 10 Januari 1993, tempat ini secara resmi ditetapkan sebagai cagar alam yang melindungi berbagai spesies tanaman hutan hujan tropis serta binatang langka seperti monyet ekor panjang.

Kini, Lembah Harau berdiri sebagai monumen alam yang memadukan keindahan tebing granit tegak lurus dengan sejarah geologi jutaan tahun yang lalu.

Sumber: Data Profil Lembah Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota.

No comments