STRATEGI KOMUNIKASI DIGITAL UNTUK CEGAH STUNTING: DOSEN ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS ANDALAS PERKUAT PERAN KADER PKK SAWAHLUNTO SEBAGAI KOMUNIKATOR KOMUNITAS
Tabloidbijak.co - Upaya pencegahan stunting tidak hanya bergantung pada ketersediaan layanan kesehatan, tetapi juga pada bagaimana pesan-pesan kesehatan dikomunikasikan secara tepat, persuasif, dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Berangkat dari kesadaran tersebut, tim dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Andalas bersama mahasiswa melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertema “Pemanfaatan Media Komunikasi Digital oleh Kader PKK Kota Sawahlunto dalam Penyuluhan Stunting.” Kegiatan ini berlangsung di Balairung Rumah Wali Kota Sawahlunto dan diikuti puluhan kader PKK dari berbagai kecamatan.
Kegiatan ini memposisikan kader PKK bukan sekadar sebagai penyampai informasi, tetapi sebagai komunikator komunitas yang mampu mengemas isu stunting menjadi pesan yang relevan, mudah dipahami, dan menarik bagi ibu muda serta keluarga berisiko. Melalui pendekatan komunikasi strategis, para peserta dibekali pemahaman bahwa keberhasilan penyuluhan stunting sangat ditentukan oleh cara bertutur, pilihan visual, kedekatan budaya, serta konsistensi pesan di media digital.
Dalam pelatihan ini, para dosen Ilmu Komunikasi memperkenalkan konsep komunikasi kesehatan berbasis audiens, di mana kader diajak mengenali karakteristik khalayak, kebutuhan informasi mereka, serta pola konsumsi media sehari-hari. WhatsApp, Instagram, Facebook, dan TikTok dipilih sebagai medium utama karena dinilai paling dekat dengan kehidupan ibu rumah tangga dan keluarga muda di Sawahlunto.
“Kader PKK memainkan peran vital sebagai komunikator garis depan di komunitas mereka. Jika mereka dapat memaksimalkan penggunaan media digital dengan strategi komunikasi yang tepat, maka pesan pencegahan stunting akan tersebar lebih cepat, lebih luas, dan jauh lebih efektif,” ujar Sarmiati, Kepala Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Andalas.
Materi pelatihan tidak hanya berfokus pada aspek teknis penggunaan media sosial, tetapi juga pada substansi dan gaya komunikasi pesan kesehatan. Peserta dilatih membuat konten edukatif yang sederhana namun berdampak, menggunakan bahasa visual yang ramah, teknik storytelling digital yang menyentuh emosi, serta framing pesan yang tidak menggurui tetapi mengajak.
Menariknya, para kader juga diajak mempraktikkan langsung pembuatan konten kampanye anti-stunting berbasis lokalitas Sawahlunto—mengangkat realitas keseharian, simbol budaya lokal, serta narasi yang dekat dengan pengalaman ibu dan keluarga di lingkungan mereka. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan rasa kepemilikan (sense of ownership) masyarakat terhadap pesan-pesan pencegahan stunting.
Ketua TP-PKK Kota Sawahlunto, Yori Riyanda Putra, menyampaikan apresiasinya terhadap pendekatan komunikasi yang digunakan dalam kegiatan ini.
“Kami tidak hanya mendapatkan pengetahuan tentang stunting, tetapi juga cara menyampaikannya agar lebih diterima masyarakat. Kami berharap keterampilan komunikasi digital yang diperoleh hari ini bisa langsung diterapkan oleh kader PKK kami dalam penyuluhan di lapangan,” ujarnya.
Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi Universitas Andalas, khususnya dalam pengabdian kepada masyarakat berbasis keilmuan. Melalui integrasi antara ilmu komunikasi, teknologi digital, dan isu kesehatan publik, Universitas Andalas berupaya membangun model pemberdayaan kader yang berkelanjutan.
Ke depan, kader PKK Sawahlunto diharapkan tidak hanya menjadi agen penyuluhan stunting, tetapi juga menjadi produsen konten edukasi kesehatan yang konsisten, kreatif, dan kontekstual. Dengan demikian, media digital tidak lagi sekadar ruang hiburan, tetapi berubah menjadi ruang pembelajaran kolektif untuk menciptakan generasi Sawahlunto yang lebih sehat dan bebas stunting.

No comments