Breaking News

Drs. H. Nurfirmanwansyah, Apt., M.M Alokasikan Pokir untuk Generasi Muda Solok Raya Menuju Indonesia Emas 2045


Tabloidbijak.co - Di tengah riuh politik yang sering kali hanya terdengar menjelang pemilu, ada satu langkah sunyi namun strategis yang jarang mendapat sorotan: membekali pemilih pemula dengan literasi politik dan kepemimpinan sejak dini.

Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat, Drs. H. Nurfirmanwansyah, Apt., M.M, mengalokasikan Pokok Pikiran (Pokir)-nya untuk kegiatan Pelatihan Pendidikan Politik dan Kepemimpinan bagi Pemilih Pemula, yang digelar selama dua hari, 14–15 Februari 2026, di Aula Alahan Panjang Resort, Lembah Gumanti.

Bagi Nurfirmanwansyah, investasi politik terbaik bukan pada baliho, melainkan pada kesadaran generasi muda.

“Generasi muda harus menjadi pemilih yang rasional, bukan emosional. Politik bukan sekadar perebutan kekuasaan, tetapi jalan untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat, keadilan sosial, dan tegaknya hukum,” tegasnya di hadapan pelajar SLTA se-Solok Raya yang memenuhi aula dengan semangat dan rasa ingin tahu.

Nurfirmanwansyah memahami satu hal mendasar: masa depan demokrasi Indonesia, khususnya di Sumatera Barat, sedang bertumpu pada pundak anak-anak muda hari ini.

Angka golput, polarisasi digital, dan banjir disinformasi menjadi tantangan nyata. Pendidikan politik bagi pemilih pemula bukan lagi pilihan tambahan, tetapi kebutuhan mendesak. Ia menilai kegiatan seperti ini strategis untuk:

meningkatkan kualitas partisipasi pemilih, membangun nalar kritis generasi muda, serta menanamkan etika kepemimpinan sejak dini.

Demokrasi yang sehat lahir dari pemilih yang sadar, bukan sekadar datang ke TPS karena ikut-ikutan.

Di era ketika opini bisa dibentuk dalam hitungan detik oleh algoritma media sosial, Nurfirmanwansyah juga menekankan pentingnya literasi digital.

Ia mengingatkan peserta agar tidak menjadi generasi yang hanya mahir menggulir layar, tetapi gagap memahami dampaknya.

“Teknologi adalah alat. Kalau tidak cerdas menggunakannya, kita bisa dikendalikan oleh arus informasi yang salah,” pesannya.

Pernyataan itu terasa relevan. Di tengah arus AI, hoaks, dan politik identitas, generasi muda memang harus lebih cerdas dari sekadar viral.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Idea Corner, komunitas anak-anak muda kreatif dengan moto “Inovasi Cerdas untuk Masa Depan Digital.”

Konsepnya sederhana namun kuat: anak muda berbicara kepada anak muda, dengan bahasa zaman mereka.

Pemateri yang dihadirkan pun bukan figur sembarangan.

Ada Yendi Putra, S.Kom, M.Kom, MTA, akademisi sekaligus Ketua RTIK Sumbar, yang membedah peran teknologi dalam demokrasi modern.

Ada pula Supri Ardi, S.Kom, M.I.Kom, penggiat media sosial yang mengulas bagaimana membangun personal branding yang sehat dan produktif di ruang digital.

Tak hanya teori, peserta juga diajarkan bagaimana memanfaatkan media sosial secara produktif bahkan menghasilkan pendapatan secara legal dan kreatif.

Di titik inilah pendidikan politik bertemu ekonomi digital.

Bukan hanya membentuk pemilih cerdas, tetapi juga generasi yang mandiri secara finansial.

Menuju Indonesia Emas 2045 Dimulai dari Ruang Kelas

Indonesia Emas 2045 bukan slogan kosong. Ia membutuhkan generasi yang:

Sadar politik, kuat karakter, cakap teknologi, dan berintegritas.

Langkah Nurfirmanwansyah mengalokasikan Pokir untuk pendidikan politik pemilih pemula menunjukkan satu pesan penting: pembangunan tidak selalu soal beton dan aspal. Kadang ia dimulai dari kesadaran.

Di Alahan Panjang yang sejuk itu, dua hari pelatihan mungkin tampak sederhana. Namun bisa jadi, di antara para pelajar yang duduk mendengarkan hari itu, ada calon pemimpin masa depan.

Demokrasi tidak lahir dari kebisingan. Ia tumbuh dari kesadaran.

Dan Solok Raya, perlahan, sedang menanam benih itu.

No comments